Jumat, 25 April 2025

Loh, sudah sampai di sini?

 "Jangan main jauh-jauh ya." Pesan yg selalu disampaikan orang-tuaku, ketika aku izin untuk pergi dengan teman komplek yg selalu mengajakku bermain.

Walau pilek dan ingusan, aku selalu bersemangat untuk bermain kejar-tangkap, bikin kue dari pasir, bahkan menangkap capung yg kini sudah seperti satwa yg dilindungi; hampir punah.

Tentu saja aku tak mendengarkan pesan dari orang-tuaku dan tetap bermain sampai komplek sebelah. Sontak aku merasa hebat sebab aku sudah mampu pergi jauh sendirian. Aku ingin bercerita ke orang tua-ku, "Pah, mah tadi aku berani ke tempat jauh; komplek sebelah, SENDIRIAN!" Aku kadang merasa kesal sebab orang-tuaku selalu melarangku untuk bermain ke tempat yang jauh; ke depan komplek. Padahal teman-temanku yg lain mendapat izin untuk bermain ke manapun yg mereka mau.

.

.

"Pah, mah, aku mau berangkat ya mau mencari pengalaman ke kota lain." 

"Iya anakku yg cantik, pergi lah. Sejauh yg kamu mau, kelilingi dunia, doa kami merestui."

Aku sedikit shock. 

Mereka tidak lagi melarangku untuk pergi jauh?

Kemudian nafasku memberat, air mataku luruh bersamaan dengan perasaan haru yg sedari tadi memenuhi batinku.

"Loh aku sudah sampai di sini? Sudah jadi dewasa ya? Sudah bertanggung-jawab atas kehidupanku sendiri ya?" 

Basa-basi pada diri sendiri memang kerap kali kulakukan untuk mengusir rasa takut, dan sebagai respon atas ke-tidak-siap-anku, ketika orang tuaku sudah tak lagi melarangku untuk pergi jauh meninggalkan rumah.


Aku sempat berpikir "enak ya hidup sendiri, bebas tanpa ada yg mengatur" tapi sekarang kalau diberi 1000 aturan pun, aku berjanji akan kuturuti. 

Aku selalu kesal ketika orang-tuaku membombardir henpon-ku dengan ancaman "kalau jam 11 belum pulang, papa kunci pintu ya, tidur di luar."

Saat itu aku merasa jumawa, aku sudah bukan lagi anak kecil yg harus pulang di bawah jam 10.

Tapi sekarang ketika mereka memberiku restu untuk pergi jauh dari rumah, mengapa langkahku terasa berat ya? Mengapa aku tidak lagi jumawa seperti ketika aku ingin pulang nongkrong lewat dari jam 11 kala itu? Mengapa semakin mereka melepaskanku, aku semakin enggan untuk beranjak dari kehangatan rumah ini ya?


"Papa aku takut."

"Jangan takut, doa papa dan mama selalu buat kalian. Jadilah kuat, tapi tetap sopan dan rendah hati ya, nak."